banner here

Salah kaprah tentang Arsitektur “ Kami pun peduli dengan alam”

advertise here


Tulisan ini saya buat sebagai edukasi untuk masyarakat luas bahwa Ilmu Arsitektur bukanlah sesuatu pembangunan yang hanya merusak alam, lebih dalam tentang ilmu Arsitektur adalah bagaimana mempertahankan lingkungan alami yang saat ini mulai berkurang akibat perubahan dari lingkungan binaan. Maka dari itu saya akan menjelaskan sedikit tentang “Sustainability” dalam konteks Arsitektur.
Bahan dari tulisan ini adalah Tugas Teori Arsitektur 2, yang beranggotakan:
BHARA MARANGGA                       052.0013.00014
NADYA AMANTA                             052.12.076
SARA BIDADARA HAWA                                052.12.105
TANIA NOVITA                                  052.0013.00088

DOSEN : IR. RITA WALARETINA,MSA
KELAS    : B


1.        1 DEFINISI ARSITEKTUR BERKELANJUTAN

- Sustainable Architecture- James Steele
                ”Arsitektur yang memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang, dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri
- PENERAPAN KONSEP SADAR ENERGI DALAM PERENCANGAN  ARSITEKTUR YANG BERKELANJUTAN-SUKAWI (2011)
                “Perwujudan dari desain arsitektur yang sadar energi dan berwawasan lingkungan merupakan bagian dari arsitektur berkelanjutan...”
- KONSEP ARSITEKTUR BERKELANJUTAN PADA TATA RUANG KOTA (study kasus : peralihan fungsi hijau menjadi perumahan)- Eddy Darmawan, Haryanto
                “Menurut Budihardjo (1993) pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang membangun tanpa harus merusak lingkungan atau menggusur. Sedangkan  menurut Sudharto (2009) dalam bukunya Manusia dan Lingkungan, kegiatan pembangunan, terlebih untuk Negara berkembang betapapun di perlukan untuk menentaskan kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan...”




- MODEL “SMALL BUILDING” SEBAGAI SALAH SATU WUJUD
EFFEKTIFITAS RUANG DAN IMPLEMENTASI ARSITEKTUR
BERKELANJUTAN- Primadella
                               
“Sustainable
architecture menyangkut persoalan teknologi-material, antara lain melalui
efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan lahan, efisisensi penggunaan
material, penggunaan teknologi dan material baru, dan manajemen limbah.
Effektifitas penggunaan lahan merupakan point penting proses perencanaan
pembangunan yang berkonsep arsitektur berkelanjutan mengingat semakin
tingginya jumlah dan kebutuhan manusia yang berbanding terbalik dengan
luasan lahan yang tersedia...”

kesimpulan
       Definisi Arsitektur berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa membahayakan kehidupan di masa mendatang. Menjaga lingkungan sekitar dengan mendesain bangunan yang efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan, kesejahteraan, ekonomi dan sosial mereka sendiri.


2.       2 Principles of Sustainable Design




1)      Principle 1: Economy of Resources

Energy Conservation
Melakukan penghematan dalam penggunaan energi. Dapat juga berupa pengaplikasian desain bangunan sustainable yang memperhatikan aspek-aspek lingkungan seingga dapat mengehemat kebutuhan energi.


Water Conservation
Sebuah bangunan membutuhkan cakupan air yang besar untuk keperluan minum, memasak, mencuci, menggunakan toilet, mengairi tanaman, dll.
Semua air ini membutuhkan perawatan dan pengalokasian yang baik, dalam mengkonsumsi energi sehingga tidak boros dalalm menggunakan air tersebut. Air buangan yang keluar dari bangunan sebagai limbah juga harus diberi penanganan khusus sehingga tidak mencemari lingkungan.



Material Conservation
Masuknya bahan bangunan terjadi terutama selama tahap konstruksi. Limbah yang dihasilkan oleh proses pembangunan dan pemasangan sangatlah signifikan jumlahnya. Setelah proses konstruksi selesai, penggunaan bahan bangunan juga tetap berlanjut untuk proses pemeliharaan,penggantian, dan serta renovasi bangunan.
Pentingnya daur ulang material sangatlah perlu diperhatikan melihat banyaknya sampah/limbah bahan bangunan yang seharusnya dapat digunakan kembali/ dimanfaatkan namun hanya dibuang begitu saja.



2)      Principle 2 : Life Cycle Design


1. Pre-Building Phase
Fase ini meliputi pemilihan lokasi, desain bangunan, dan membangun proses material, selain strategi berkelanjutan-desain, kita meneliti konsekuensi lingkungan dari desain struktur itu, orientasi, berdampak pada lanskap, dan bahan yang digunakan.

2. Building Phase
Fase ini mengacu pada tahap siklus hidup bangunan saat bangunan secara fisik sedang dibangun dan dioperasikan. Dalam strategi desain berkelanjutan, kita meneliti proses konstruksi dan operasi cara untuk mengurangi dampak lingkungan dari konsumsi sumber daya, kita juga harus mempertimbangkan efek kesehatan jangka panjang dari lingkungan bangunan pada penghuninya.

3. Post-Building Phase
Fase ini dimulai ketika masa penggunaan bangunan telah berakhir Pada tahap ini, bahan bangunan menjadi sumber untuk bangunan lain atau limbah untuk dikembalikan ke alam. Strategi desain yang berkelanjutan berfokus untuk mengurangi limbah konstruksi (yang saat ini terdiri 60% dari sampah di tempat pembuangan) dengan daur ulang dan menggunakan kembali bangunan dan bahan bangunan yang ada.



3)      Principle 3 : Human Design

       Preservation of Natural Conditions
Seorang arsitek harus meminimalkan dampak bangunan pada ekosistem lokal/sekitar (misalnya, topografi yang ada, tanaman, satwa liar).
       Urban Design and Site Planning
Lingkungan, kota, dan seluruh wilayah geografis bisa mendapatkan keuntungan dari perencanaan yang kooperatif secara menyeluruh untuk mengurangi penggunaan energi dan air. Hasilnya bisa menjadi lingkungan perkotaan lebih nyaman, bebas polusi dan ramah lingkungan.
       Human Comfort
desain yang berkelanjutan tidak perlu mengurangi kenyamanan manusia. Desain harus meningkatkan  meningkatkan kinerja dan lingkungan. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi stres, serta mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan.


The Other Principles of
SUSTAINABLE ARCHITECTURE




-Environmental Sustainability | Kelestarian Lingkungan
Konsep desain yang mempertahankan sumber daya alam lebih lama karena kemungkinan terjadinya keterpaduan antar-ekosistem. Hal ini dapat dikaitkan dengan potensi umur sumber daya alam tersebut dengan ekologis manusia itu sendiri. kerusakan sumber daya alam sudah memasukin tingkat global. Ini yang menyebabkan hilangnya potensi bumi untuk mendukung kehidupan manusia.

  • Ecosystem Integrity | Integritas Ekosistem
  • Carrying Capacity | Daya Dukung
  • Biodiversity | Keanekaragaman Hayati


-Social Sustainability | Keberlanjutan Sosial
Keberlanjutan sosial adalah tentang kualitas hidup masyarakat, sekarang dan di masa depan. menggambarkan sejauh mana lingkungan mendukung individu dan kesejahteraan yang bersamaan.
keberlanjutan sosial merupakan penggabungkan desain lingkungan fisik dengan fokus pada bagaimana orang-orang dapat tinggal  dalam suatu tempat dan menggunakan ruang  yang saling berhubungan dan berfungsi sebagai sebuah komunitas.

  • Cultural Identity | Identitas Budaya
  • Empowerment | Sumber Daya Manusia
  • Accessibility | Aksesibilitas
  • Stability | Stabilitas
  • Equity | Kesamarataan 
-Economical Sustainability | Keberlanjutan Ekonomis
Konsep disain yang relatif rendah untuk biaya inisiasi dan operasinya. Selain itu diharapkan juga dapat mendatangkan profit dan benefit pada aspek-aspek yang telah disebutkan sebelumnya. 

       Growth | Pertumbuhan
       Development | Pengembangan
       Productivity | Produktifitas
       Trickle-Down | Menekan ke Bawah


                        


                            GREEN VS SUSTAINABLE

              A product is both green and sustainable when it:

       Performs as a green product
       Has low or no toxicity
       Manufactured in a sustainable manner

Produk ini sangat hijau dalam aplikasi dan penggunaan, karena lantai tahan lama dan tidak perlu di refinished dalam waktu yang lama, tapi mungkin tidak sustainable diproduksi , karena VOC tinggi berkontribusi terhadap asap dan masalah lain.
Ambil kayu untuk contoh lain . Kayu jelas merupakan produk yang sangat hijau, tapi hanya berkelanjutan jika perusahaan yang panen kayu memiliki rencana hutan lestari yang tidak menguras sumber hutan dari waktu ke waktu dan pada keseimbangan . Mahoni atau jati tropis mungkin sangat hijau karena daya tahan mereka , tetapi mereka tidak berkelanjutan jika mereka dipanen dengan cara destruktif .



CONTOH KASUS

Campus Luigi Einaudi / Foster + Partners

Architects: Foster + Partners, Marco Visconti
Location: Torino, Italy
Year: 2013


Respect for site
Bentuk bangunan mengikuti kondisi tapak dengan sebuah plaza di tengah bangunan membuat tiap-tiap ruangan mendapatkan cahaya yang optimal




Campus Luigi Einaudi / Foster + Partners
MATERIAL CONSERVATION

Desain menggunakan kayu bersertifikat FSC di seluruh ruangan bangunan , termasuk kayu ajus untuk panel langit-langit akustik di perpustakaan dan lantai bambu sustainable untuk balai pertemuan .

 
Penggunaan material sustainable berupa struktur baja serta kaca dan alumunium yang memiliki ketahanan yang tinggi sebagai fascade.
 
lebih dari 7.200 meter persegi ubin paving fotokatalitik digunakan dalam hard landscaping untuk membantu menetralisir efek polusi debu.
 

Campus Luigi Einaudi / Foster + Partners
ENERGY CONSERVATION

Kombinasi pencahayaan alami dan buatan mengurangi penggunaan energi hampir 20 persen , intelligent building control systems menjamin efisiensi operasional dan sumber Tri generasi memberikan pemanasan dan pendinginan , sedangkan membutuhkan energi 20 persen lebih sedikit dibanding fasilitas tanaman.

“It is not a sealed building. It delivers a lot of fresh air -- 40 times the amount of fresh air. That is good in terms of carbon emissions. It is also good in terms of energy.” NORMAN FOSTER


Campus Luigi Einaudi / Foster + Partners
Working With Climate / Water Conservation

Bangunan menggabungkan sejumlah teknologi fitur hemat energi , dari strategi pasif seperti atap menjorok , yang kedalamannya ditentukan oleh analisis jalur surya


Pengelolaan air buangan berupa filtrasi membuat bangunan ramah terhadap lingfkungan.




Pada bangunan ini juga menggunakan sistem penampunagan air hujan dalam suatu wadah  yang kemudian di filtrasi secara alamiah yang kemudian dapat dipakai sebagai air bersih







Foster. N and Partener (2001). Foster Catalogue 2001. London: Prestel Verlag.
Anink. D, Boonstra. C and Mak. J (1996). Handbook of Sustainable Building. Earthscan Publications

http://www.archdaily.com/407662/campus-luigi-einaudi-marco-visconti-and-foster-partners/

Introduction of Sustainability, Jong Jin Kim, 1998
Bahan Bangunan yang Ramah Lingkungan (Salah Satu Aspek Penting
 Dalam Konsep Sustainable Development) – Indira Shita Siagian